Makna simbolis Tradisi Slametan Kematian Bagi Masyarakat Penganut Islam Kejawen

                Praktik upacara selamatan atau tahlilan pada umumnya dianut oleh kaum Islam Abangana atau islam kejawen, sedangkan bagi kaum Islam Putihan (santri) praktik selamatan tersebut tidak sepenuhnya dapat diterima, kecuali dengan membuang unsur-unsur syirik yang menyolok. Karena itu bagi kaum santri, selamatan adalah upacara do’a bersama dengan seorang pemimpin yang kemudian diteruskan dengan makan-makan bersama sekedarnya dengan tujuan untuk mendapatkan keselamatan dan perlindungan dari Allah Yang maha Kuasa. Tahlil secara bahasa berasal dari sighat mashdar dari kata “hallala” yang berarti membaca kalimat la ilaha illallah. Tahlilan adalah mengunakan atau memakai bacaan tahlil untuk tujuan tertentu. Sekarang tahlilan digunakan sebagai istilah bagi perkumpulan orang untuk melakukan doa bersama bagi orang yang sudah meninggal.

            Setelah jenazah dikebumikan terdapat tradisi selametan yang haruh dijalankan. Bagi masyarakat, selamatan yang berkenaan dengan kematian tidak hanya dilakukan pada malam pertama (turun tanah) saja, tetapi juga malam ke-2 (mendua hari), ke-3 (meniga hari), ke-7 (memitung hari), ke-25 (mayalawi), ke-40 (mematang puluh),  yang disebut sebagai dan ke-100 hari (manyaratus hari), dan 1000 hari (nyewu) terhitung dari meninggalnya seseorang. Dalam setiap slametan terdapat tahlilan yang harus dilaksanakan. Cara menentukan hari-hari selamatan kematian orang Jawa memiliki teknik tersendiri. Untuk menentukan hari itu, mereka menggunakan perhitungan hari dan pasaran dengan perhitungan:

  1. Ngesur tanah dengan rumus jisarji, maksudnya hari ke satu dan pasaran juga ke satu.
  2. Nelung dina dengan rumuslusaru, yaitu hari ketiga dan pasaran ketiga
  3.  Menujuh hari (mitung dina) dengan rumus tusaro, yaitu hari ketujuh dan pasaran kedua
  4. 40 hari (matangpuluh dina) dengan rumus masarama, yaitu hari ke lima dan pasaran ke lima
  5. 100 hari (nyatus dina) dengan rumus rosarama, yaitu hari ke dua pasaran ke lima
  6. Peringatan tahun pertama (mendhak pisan) dengan rumus patsarpat yaitu hari ke empat dan pasaran ke empat
  7. Perigatan seribu hari (nyewu) dengan rumus nemasarma yaitu hari ke enam dan pasaran ke lima.

            Dalam pemahaman orang Jawa, bahwa nyawa orang yang telah mati itu sampai dengan waktu tertentu masih berada di sekeliling keluarganya. Oleh karena itu kita sering mendengar istilah selametan yang dilakukan untuk orang yang telah meninggal. Berikut diantaranya ritual yang dilakukan menurut adat istiadat Jawa. Pertama, Upacara ngesur tanah (geblag) Upacara ngesur tanah merupakan upacara yang diselenggarakan pada saat hari meninggalnya seseorang. Upacara ini diselenggarakan pada sore hari setelah jenazah dikuburkan. Istilah sur tanah atau ngesur tanah berarti menggeser tanah (membuat lubang untuk penguburan mayat). Makna sur tanah adalah memindahkan alam fana ke alam baka dan wadag semula yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah juga. Sesajen upacara ngesur tanah: bermakna memindahkan roh jenazah dari alam fana ke alam baka. Kematian tersebut didoakan oleh para ahli waris dengan berbagai sesajen yang tujuannya mengharap keselamatan bagi orang yang meninggal dan mendapat ampunan dari Tuhan. Kedua, upacara tigang dinten (tiga hari). Upacara ini merupakan upacara kematian yang diselenggarakan untuk memperingati tiga hari meninggalnya seseorang. Peringatan ini dilakukan dengan kenduri dengan mengundang kerabat dan tetangga terdekat. Sesajen upacara tiga hari: untuk menyempurnakan 4 perkara yang disebut anasir yaitu bumi, api, angin, dan air. Ketiga, upacara pitung dinten (tujuh hari). Upacara ini untuk memperingati tujuh hari meninggalnya seseorang. Sesajen upacara tujuh hari : maksudnya menyempurnakan pembawaan dari ayah dan ibu berupa darah, daging, sungsum, jeroan (isi perut), kuku, rambut, tulang, dan otot. Keempat, upacara sekawan dasa dinten (empat puluh hari). Upacara ini untuk memperingati empat puluh hari meninggalnya seseorang. Biasanya peringatannya dilakukan dengan kenduri. Sesajen upacara empat puluh hari : maksudnya untuk menyempurnakan semua yang bersifat badan wadag (jasad).Kelima, upacara nyatus (seratus hari). Upacara ini untuk memperingati seratus hari meninggalnya seseorang. Tata cara dan bahan yang digunakan untuk memperingati seratus hari meninggalnya pada dasarnya sama dengan ketika melakukan peringatan empat puluh hari. Maksud ritual ini untuk menyempurnakan kulit, daging, dan jeroan-nya. Kelima, nyewu atau seribu hari, merupakan peringatan yang dilakukan untuk orang yang sudah meninggal setelah seribu hari. Maksud ritual untuk menyempurnakan semua rasa dan bau hingga semua rasa dan bau sudah lenyap. Dari kesemua tradisis tersebut sampai sekarang masih dijalankan oleh masyarakat untuk menghormati jenazah dan mengirimkan doa bagi jenazah. Bagi sebagian masyarakat yang tidak melaksanakna akan mendapatkan gunjingan dari orang lain, tapi ada beberapa warga yang mengabaikan karena tindakan tersebut termasuk bid’ah.

About these ads
Categories: Just 4 Share | 1 Komentar

Post navigation

One thought on “Makna simbolis Tradisi Slametan Kematian Bagi Masyarakat Penganut Islam Kejawen

  1. galihdan

    i like it…….hehehehe oleh sko mdi kui vit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: